6 Cara Klasik yang Membuat Persahabatan Langgeng - Dianai's Home

Kamis, 03 Januari 2019

6 Cara Klasik yang Membuat Persahabatan Langgeng




Meski belum termasuk ke dalam kriteria sahabat yang baik, boleh dong aku share sedikit mengenai pandanganku cara-cara yang insyaa Allah bikin persahabatan langgeng. Siapa sih yang nggak punya sahabat? Sahabat bagaikan rumah kedua setelah keluarga. Di "rumah" kedua ini aku bisa belajar banyak tentang sifat-sifat manusia yang nggak ada fake-nya. hihi

Setelah berlelah-letih-lemah-lesu-lunglai di luar sana, kembalilah aku ke "rumah" kedua; tempat bercocok tawa. Hampir tiap bercengkrama selalu ada nilainya, baik yang tersirat maupun yang terucap. Tapi terkadang obrolannya nggak hanya semacam bercengkrama biasa, melainkan cengkraman (pake N).

Namanya juga sekupulan manusia dengan didikan yang berbeda dari orang tuanya (karena beda ibuk-bapak, yaiyalaajelasss), lingkungan keluarga dan rumah yang berbeda, tentu pola pikirnya pun berbeda. Jangkan yang apa-apanya berbeda, yang satu rahim-pun pemikirannya masih beda kok; manusiawi.

Menghadapi banyaknya perbedaan dan dinamika tersebut, sepertinya perlu ada suatu kesetaraan dalam memahami cara yang sekiranya bisa membuat persahabatan menjadi langgeng jayaaaa. Eh, tapi tulisan siapa nih? Penting nggak nih? Kenapa harus baca nih? Berdasarkan tulisan abstrak dan bersumber dari keseharianku ini sepertinya bisa untuk menemani kalian yang sedang gabut ini.

Sebelum bahas tentang sifat-sifatnya, sebenarnya adakah persahabatan yang sempurna?


Kita pasti tau tentang kalimat "nggak ada yang sempurna". Begitupula pandanganku tentang persahabatan ini. Terbentuk dan tersusun dari isi kepala-kepala yang tak sempurna ini tidak lantas membuat persahabatan menjadi sempurna. 

Hmm, gini kawan, apakah kalian bersahabat agar menjadi menjadi sempurna? Kalau ada yang berantem dikit lantas bikin kalian muindur dari ikatan itu gitu? Nggak kan? So, yang penting dalam persahabatan sebenarnya bukan kesempurnaan, tapi saling melengkapi.

Sedihnya, meskipun kita semua tau akan hal itu, masih ada aja yang berpikir "eh kok gitu sih" (loh kok marah? jangan gitu...), atau "aku nggak ngerti deh sama jalan pikirannya" (eh btw emang semua orang ngerti ya sama jalan pikiranmu, enggak to? haha), mungkin aku sendiri pernah kek gini. hmm... Apa ya, kadang aku juga heran aja sama orang tu kalau.......... (tahan..tahan...)

Oke, balik lagi cara-cara yang bikin persahabatan Langgeng Nggeng Nggeng

1. Nggak Egois

Ada saatnya kita perlu menurunkan sedikit ego untuk menurunkan tingkat amburadulnya komunikasi di dalam persahabatan. Mengalah, mengalahlah saat kondisi perbincangan terlihat mengarah ke 'percincangan'. Tahan, tahan, sebentar lagi keluar, oek..oek..

Misal, lagi mau ngumpul tapi ada satu anggota yang nggak bisa. Harus kesal atau sedih? Dalam teorinya kita akan menjawab sedih. tapi kenyataannya kita nggak bisa memungkiri bahwa biasanya ada juga rasa kesal yang jika lama-lama dibiarkan akan berubah menjadi ceka. -Mencekal nasihat-nasihat dari anggota yang nggak bisa ikut ngumpul misalnya. Padahal bisa saja nasihatnya itu baik. hufft-.

Oh ya, Siapa yang harusnya sedih jika ada anggota yang ngga bisa ikut ngumpul? Menurutku, harus sedih kedua belah pihak, baik yang lagi ngumpul maupun yang nggak bisa ikut ngumpul. Kalau sudah ada rasa sedih di kedua belah pihak tuh rasanya damai gitu lho seakan tahu yang jauh disana juga pasti rindu.

2. Berpikir positif

Sebelum menanamnya di dalam persahabatan, sepertinya kita perlu menanamnya di dalam diri kita sendiri. Kembali ke kasus di poin satu, kalau teman nggak bisa kumpul, coba tanyakan alasan, Ini salah satu upaya tabayyun dan membangun pikiran positif dalam persahabatan.

Jika alasannya masuk akal, anda selamat! Tapi kalau alasannya bikin malah jadi berpikir yang nggak nggak piye? Of course, langsung istigfar dan evaluasi. Tanyakan pada diri dan teman-teman yang lain tentang hal-hal yang bikin nggak ikut ngumpul. Karena bisa jadi dia yang nggak mau hadir itu bukan karena nggak kangen. Bisa jadi karena obrolan kita banyak ghibahnya, tempat nongkrong yang terlalu mahal, dan lain sebagainya.

Sebab kita nggak akan pernah tahu isi hatinya, apalagi dompetnya.

3. Mengutamakan Komunikasi

Dari kasus tersebut bisa kita lihat bahwa hal terpenting selanjutnya adalah komunikasi. Setelah kamu mendapat poin positifnya, sampaikan pada yang lain untuk meularkan hal positif dan mengurangi pikiran negatifnya.

Juga bagi pihak yang nggak bisa iku ngumpul, sampaikan alasan sejujurnya agar persahabatan kalian kaya akan makna. Jujurlah pada sekumpulan kepala yang dianggap "rumah kedua" ini. Sahabat yang baik akan mendengarkan dan mencari jalan keluar bersama.

4. Sopan

Nahloh, kenapa harus sopan sih? kan cuma sepantaran. Eits, sopan juga menjaga etika dan kesopanan. Supaya apa? Selain memang mendidik diri sendiri, menjadi sopan juga salah satu cara untuk mendekati keluarga dari sahabat kita.

Coba yuk tanya sama cermin, mau nggak punya anak yang sahabatnya sopan semua? Sikap sopan ini juga harus kita tanamkan di hadapan orang tua -yang anaknya sering kita culik tersebut-.

5. Membiasakan yang benar

Terkadang, saking sayangnya sama sahabat kita jadi berpikir "asalkan kau bahagia". Hmm padahal bahagia versi dia belum tentu baik untuk kehidupan yang akan datang.

So, jujurlah padanya, berani mengatakan "itu nggak baik", "boleh kasih saran?", dan kalimat lain sebagainya dengan cara yang baik tentunya. Sayang nggak harus manjain kok.

Disaat banyak yang membiarkan sahabat kita bahagia (versinya sendiri), sebenarnya sahabat kita sedang butuh teman yang rasional lho. Yuk tegas katakan kesalahannya, agar kesayanganmu kembali ke jalan yang benar. Hihi

6. Saling

Sebaik apapun cara kamu mempertahankan persahabatan, cukup sulit juga kalau sahabatmu yang lain nggak melakukan "saling"nya. Meski ada diurutan kelima, tapi "saling" ini menjadi cara yang utama. Bayangkan kamu memahami dia tanpa saling, mendengarkan dia tanpa saling, dan mendatangi pernikahannya tanpa saling. hmm. oke skip jangan dibayangin.

Eh tapi saling ini harus diisi dengan "saling" yang baik-baik aja lho, sebab nggak semua saling itu baik.

Ini sih hanya cara-cara klasik versi-ku yang harus tetap dilestarikan sampai cucunya cici-cicitku nanti menjalin persahatan. Kuharap nggak ada benar salah ya dalam judul "cara" ini. Sebab setiap kepala berhak mengatur "cara"nya sendiri. 

Setiap kita punya cara yang berbeda, perbedaan pun terkadang menjadi "cara" agar di dalam persabahat itu sendiri memiliki sikap "saling". Selamat bersahabat.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar