Waktunya Membuang Topeng Keikhlasan - Dianai's Home

Jumat, 28 Desember 2018

Waktunya Membuang Topeng Keikhlasan



Percaya atau nggak, terkadang ikhlas hanya di mulut saja. Terkadang lho ya. Misal, terucap di bibir "nggak apa-apa kok aku hidup begini, aku ikhlas". Eh selesai ibadah meronta dan meraung kepada Tuhannya, "kenapa hidupku begini?", "kenapa harus aku?" dan sebaris keluh kesah lain yang terkesan protes akan keadaan.

Jika itu terjadi pada diri kita, sebaiknya tanyakan kembali kepada hati dan pikiran kita, apakah kita sudah benar-benar ikhlas? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ikhlas berarti tulus hati. 

Sedangkan dalam KBBI, tulus memiliki arti sungguh dan bersih hati (benar-benar keluar dari hati yang suci); jujur; tidak pura-pura; tidak serong; tulus hati; tulus ikhlas.

Ada arti kata tulus yang perlu digarisbawahi yaitu "jujur, tidak pura-pura". Jujur pada diri sendiri, nggak pakai kamus pura-pura hanya demi terlihat keren di mata manusia. Aku mengartikan ikhlas dengan kata rela. 

Menurutku, ikhlas ialah rela ketika memberi, dan pasrah ketika menerima.

Lalu, salahkah kita yang sudah terlanjur mengaku ikhlas namun nyatanya masih belum rela? Tidak sepenuhnya salah, hanya saja ada sisi yang perlu diperbaiki bahkan diubah. Ya, isi pikiran. Seseorang yang sering protes pada Tuhannya mungkin ia jarang bertamasya jiwa. 

Bertamasya dengan cara melihat mereka yang ternyata harus merasakan "ikhlas" jauh lebih besar daripadanya.Oleh sebab itu, bergegaslah tamasya jiwa. Melihat sekitar, mereka yang kita anggap berada di bawah kita (dalam sisi apapun) namun memegang erat rasa syukurnya. 

Selain itu, berdoalah dengan meminta diberikan petunjuk dan hikmah dari semua kejadian yang sudah dialami. Membiasakan diri untuk senang ketika melihat orang lain senang juga ternyata berpengaruh positif lho terhadap diri yang susah ikhlas.

Tamasya jiwa dengan cara melihat orang-orang yang berada di bawah kita


Yap, inimerupakan cara paling jitu untuk menumbuhkan rasa syukur yang nantinya akan membuahkan rasa ikhlas. Misalnya, gaji suami pas-pasan untuk bisa bayar rumah yang masih ngontrak , biaya sehari-hari, nabung nggak seberapa mengingat sedang menghidupi anak sekitaran usia 5 tahun. 

Eh Allah kasih hamil anak kedua, "alhamdulillah hamil", katanya. Satu jam kemudian khawatir, "gimana nih kalau pak suami kerjanya gitu-gitu terus? mau beli susu, vitamin, dan melahirkan pakai uang siapa ya?".

Stop! Waktunya positif thinking, Bunda.  Selain memang kehamilan tersebut perlu disyukuri, Ibu hamil harus selalu positif thinking lho. Lagi pula, bukankah setiap kepala sudah diberikan garis takdir termasuk jabang bayi yang masih dalam perut tersebut? Tenang, pasti ada jalan kok. 

Nah, sekarang coba deh lihat tetangga sebelah (tentu yang dilihat yang berada di bawah ya, jangan di atas, sebab itu terlarang!). Ada yang penghasilan suaminya tak menentu, memiliki dua anak yang keduanya sudah sekolah, belum lagi hutangnya dimana-mana.

Ada juga mereka yang belum tentu mendapatkan uang setiap hari, saking tidak tetapnya penghasilan. Waktunya bersyukur yuk, supaya hati tentram, damai, ikhlas. 

Jika memang demikian keadaannya, doakan Pak suami, supaya lancar rejekinya, ditambah lagi dengan yang halal dan barokah. Berdoalah setinggi dan sebanyak apapun Bun. Selain itu, terus kasih dukungan juga ke Pak Suami, jangan kasih kendor!

Jika kita pikir-pikir lagi, siapa sih diri kita ini? seberat apasih hidup kita dibanding mereka yang bahkan mungkin sedang dalam kebingungan dimana mereka akan merebahkan dirinya nanti malam. Ikhlas ada karena adanya rasa syukur, maka bersyukurlah untuk menambah keikhlasan itu. 

Bersyukurlah seakan kita telah mendapatkan semua, berusahalah seakan besok waktu kita telah habis, dan ikhlaslah layaknya seorang calon ibu yang akan memasuki ruang persalinan. 

Sekarang, waktunya kita membuang topeng keikhlasan yang pernah melekat dalam diri dan pikiran. Ganti dengan keihklasan yang jujur dan benar-benar tumbuh dari hati. Sebab dari keikhlasanlah lahirnya sebuah kebaikan yang tulus.