Mengoleksi Barang, Perlukah? - Dianai's Home

Jumat, 30 November 2018

Mengoleksi Barang, Perlukah?


Assalamualaikum sobat embun..
Kali ini aku mau coba bahas tentang diriku penting tidaknya mengoleksi barang. Kamu tim mana nih? Mengoleksi atau nggak punya koleksi? Kalau kamu termasuk tim yang nggak punya koleksi, kita berarti sama, lho. 
Perempuan yang fanatik terhadap suatu hal memang terlihat unik dan identik. Misalnya, seseorang yang fanatik dengan karakter kartun doraemon biasanya akan mengoleksi barang apapun yang bergambar doraemon, perlu atau tidak perlu, penting atau tidak penting barang tersebut. 
Pun sama halnya dengan seseorang yang menyukai warna pink. Gila sih ini biasanya feminim banget, haha. Biasanya kaum ini akan tergila-gila dengan sesuatu yang memiliki warna pink. Tetep unik? Banget. Udah gitu nih, seseorang yang fanatik dengan warna tertentu sebagian dari mereka  itu membenci warna tertentu (tapi sebagiannya lagi biasa aja kok). Sampai ada yang sangat menghindari warna tertentu loh, ekstrim ya. Tapi ya begitulah uniknya kaum-kaum unik ini, seru loh punya teman dari kaum unik ini.
Sedangkan aku, aku hanyalah remaja (menuju dewasa tapi belum dewasa, eh gimana?) biasa yang nggak mengistimewakan apapun. Sampai-sampai kalau ditanya "kamu suka warna apa?" itu udah bingung banget mau jawab apa. Ya Allah... udah kaya soal UN, mikir keras. Tapi alhamdulillah jarang ada yang nanya (bingung mau bahagia apa ngenes).
Aku bukan tipe perempuan yang fanatik terhadap suatu hal, juga bukan perempuan yang mengikuti trend. Bingung? Aku juga sih. Tapi lebih sering make it simpel like "kalau suka ya beli, harganya nggak cocok ya cari barang lain, nggak mesti barang yang itu". Seharusnya sama dengan "kalau kamu mau ya ayo nikah, kalau engga cocok ya udah lah ya bukan jodoh, lanjut cari jodoh"
Eh tapi kenyataannya sikap ketidakfanatikan ini nggak berlaku untuk urusan asmara, tetep ada drama protes sama Allah blablabla, padahal Allah kan udah siapin jodoh buat kita, harusnya tetep bisa  steykul dong ya sambil menunggu finalis selanjutnya (red: orang). OK skip aja paragraf ini.
Karena eh karena aku bukan tipe perempuan yang fanatik, aku jadi nggak pernah mengoleksi barang-barang. 

Alasan nggak pernah mengoleksi barang-barang

1. Nggak tau sukanya sama apa-___-

Nggak mengenali diri sendiri? Bukan, justru aku sangat kenal betul bahwa diri aku ini nggak menyukai apapun. Oke aku belakangan ini suka pakai baju dengan warna pastel, eh tapi bisa jadi dua hari kemudian jatuh cinta liat baju warna hitam, bisa jadi karena modelnya yang cocok buatku.
Begitupun untuk urusan lain, misal habis ng-instagram dan ada foto Fedi Nuril lewat di explore. Setelah logout instagram pernah berdoa "Kok ganteng ya Fedi Nuril nih, beruntung ya istrinya, ya Allah kasih yang gantengnya kaya Fedi Nuril Yaa Allah". Eh boleh kan berdoa kaya gitu?
Nah masih soal instagram nih, besoknya lagi aku lihat instagramnya Alyssa Soebandono, "Ya Allah pengen punya suami yang ganteng kaya Malik Dude Harlino Yaa Allah". Udah ganti tuh harapannya. Tapiiiiiiiii pas ngaca di cermin doanya udah beda lagi (udah sadar? mungkin wkwk). Nggak gitu lho, doanya itu اللهم كما حسّنت خَلقي فحسّن خُلقي yang artinya “Ya Allah, sebagaimana Engkau memperbagus badanku maka perbaguslah akhlakku”. Supaya dapat jodoh yang akhlaknya bagus, ganteng juga gapapa Ya Allah. Hmmm~
Nggak punya spesifikasi? Tentu punya. Tapi aku nggak suka punya sifat yang "terlalu menyukai" suatu barang atau objek. Sebab, kalau kehilangan barang tersebut rasanya pasti sakit. Dari situlah aku nggak mau fanatik terhadap suatu barang.

2. Merasa mubadzir

Mungkin poin kedua ini bisa dilihat dari porsi dan sifat dari barang tersebut ya. Misalnya emak-emak yang hobinya ngoleksi tuppe*ware. Nah, barang ini sih bermanfaat banget (kalau dipakai), tapi kalau cuma dipajang, nah disitulah letak mubadzirnya (menurutku). Kalau terkadang terselip pikiran "kan nanti bisa dipakai lagi", nah yang ini beda lagi. 
Hal ini ternyata nggak hanya terjadi pada barang yang dikoleksi loh, bahkan barang-barang seperti baju, celana, rok, mukena, dan segala macam yang berlebih dan nggak terpakai, itu juga mubadzir. Padahal di luar sana banyak yang membutuhkan, padahal nanti di hari kiamat akan dihisab semua barang milik kita. Ya begitulah, yang berlebihan memang selalu tidak baik.

Solusi agar tidak mubadzir:

  • mengoleksi barang yang bermanfaat (seperti buku, piring, gelas, dengan niat nantinya bisa dipinjamkan kepada orang lain yang membutuhkan)

3. Jadi Lebih Boros

Nah, kalau yang ini sih bisa diatasi dengan menyeimbangkan antara pemasukan dengan pengeluaran untuk mengoleksi barang. Jangan sampai besar pasak daripada tiang. Padahal barang yang dikoleksi termasuk barang yang nggak dibutuhkan. Tapi kalau memang terlanjur cinta, usahakan tetap perhatikan budget yang dikeluarkan ya. Para kolektor biasanya tau betul mengatasi hal yang satu ini nih. Tapi walaupun begitu, menurutku peluangnya borosnya lebih banyak, jadi aku tetap memilih nggak fanatik terhadap sesuatu apalagi mengoleksinya.

So, Boleh Nggak jadi Kolektor?

Pertanyaan ini akan kujawab, tentu boleh asal barangnya bermanfaat, kalau barang tersebut nggak mendatangkan manfaat, lebih baik jangan. Oh ya, mungkinkah aku menjadi tidak istimewa karena tidak menyukai apapun? Oh tidak, justru disinilah letak istimewanya (aku bagi diriku). Yap, keistimewaanku adalah tidak mengistimewakan apapun. Wkwk
Sekian opini ku tentang perlu tidaknya mengoleksi barang. Disini aku hanya sharing dan menuangkan hasil pikiranku tentang koleksi barang, tidak untuk menyudutkan pihak-pihak tertentu ya. Boleh setuju maupun tidak, untuk kamu tim kolektor boleh banget sharing tujuan kamu mengoleksi barang tersebut, pun bagi yang tidak punya koleksi, Silahkan berbagi di kolom komentar. Feel free to sharing about this.
See u..